
1.Sejarah Phytagoras
Pythagoras adalah anak Mnesarcus, seorang pedagang yang berasal dari Tyre. Ia lahir di Pulau Samos, di daerah Yunani Selatan pada tahun 580 SM. Dia banyak melakukan perjalanan, diantaranya ke Babylon, Mesir dan diperkirakan pernah sampai India. Di Babylon, phytagoras menjalin hubungan dengan ahli-ahli matematika. Perjalanan dilanjutkan oleh Phytagoras ke Mesir. Karena kecerdasannya yang luar biasa, para imam Mesir yang dikunjunginya merasa tidak sanggup menerima Phytagoras sebagai murid. Namun, pada akhirnya ia diterima sebagai murid oleh para imam di Thebe.
Didalam perjalanannya Pythagoras sudah melihat 7 keajaiban dunia (kuno), dimana salah satunya adalah kuil hera yang terletak di kota kelahirannya. Ia juga menyeberangi selat dan beberapa mil ke utara, yakni Turki, dan di sana terdapat keajaiban lain, yaitu ephesus.

Pada usia 18 tahun, Pythagoras bertemu dengan Thales. Thales adalah seorang kakek tua yang mengenalkan matematika kepada Pyhtagoras lewat muridnya yang bernama Anaximander, namun yang diakui Pyhtagoras sebagai guru adalah Pherecydes.
Setelah berkelana mencari ilmu, Pyhtagoras kembali ke Samos dan meneruskan pencarian filsafatnya serta menjadi guru untuk anak Polycartes, peguasa tiran di Samos. Kira- kira pada 530 SM, Pyhtagoras berpindah ke kota karena tidak setuju dengan pemerintahan Tyrannos Polycartes.
Pyhtagoras berpindah ke kota Crotona di Itali Selatan. Di kota ini, Pyhtagoras mendirikan mazhab pemikiran yang kemudian dikenal dengan sebutan “Mazhab Pyhtagorean”. Pemikiran filsafat terpenting mazhab pyhragorean adalah bahwa bilangan adalah segalanya. Bilangan tersebut terdiri atas bilangan genap dan ganjil; bilangan terbatas dab tak terbatas.
Selain itu, dia juga membuka membuka sekolah filsafat yang menerima murid tanpa membedakan jenis kelamin. Sekolah itu menjadi sangat terkenal. Gambaran terperinci tentang sekolah yang didirikan Pytagoras tidak terlalu jelas Menurut sejarah Phytagoras setelah mendirikan sekolah, lalu pergi ke Delos pada tahun 513 SM untuk merawat penolong sekaligus gurunya yaitu Pherecydes. Pyhtagoras menetap disana sampai dia meninggal pada 475 SM.
2. Pemikiran Pyhtagoras
Matematika dan mitos tentang angka tidak dapat dipisahkan. Setiap angka adalah simbol yang melambangkan sesuatu yang terkait dengan metafisik. Pyhtagoras pun percaya akan hal itu. Pyhtagoras percaya bahwa angka bukan unsur seperti udara dan air yang banyak di percaya sebagai unsur semua benda. Angka bukan anasir alam. Adapun pemikiran pyhtagoras yakni:
“Apabila bilangan mengatur alam semesta, bilangan adalah kuasa yang diberikan kepada kita guna mendapatkan mahkota untuk itu kita menguasai bilangan”
if “Number rules the universe. Number is merely our delegate tu the throne, for we rule Number”
Pyhtagoras
3. Pyhtagoras dan Pengaruhnya
Suatu teorema dalam matematika berbentuk implikasi misalnya, teorema
Pyhtagoras dapat dnyatakan dalam bentuk implikasi sebagai berikut:Jika
suatu segitiga merupakan segitiga siku-siku , maka kuadrat ukuran sisi
miring sama dengan jumlah kuadrat ukuran sisi siku-sikunya”
Teorema
Pyhtagoras menyatakan bahwa jumlah kuadrat sisi-sisi siku-siku sebuah
segitiga siku-siku sama dengan kuadrat sisi miringnya (hipotenusa).
Pyhtagoras dan para pengikutnya banyak berprestasi terutama dalam penyelidiki angka-angka. Akan tetapi, Pyhtagoras juga berjasa dalam bidang astronomi . Penemuannya itu telah mengungguli para ilmuan sezamannya. Pyhtagoras dan para pengikutnya memandang bumi itu berbentuk bola dan bintang-bintang satu gugusan. Ditambah dengan api yang berada di pusat yaitu Saturnus. Jupiter, Mars, Venus, Merkurius, Matahari, Bulan, Bumi, Kontra Bumi, dan Api itu sendiri.

Penyebutan – penyebutan gugusan bintang sebanyak sembilan itu diselaraskan dengan jumlah angka yang dipercaya oleh Pyhtagoras yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Bilangan angka-angka tersebut tidak mencapai keselarasan dalam alam semesta jika tidak ada angka nol yang disimbolkan sebagai pusat jagat raya. Nol itu disamakan dengan api sentral dalam pandangan pyhtagoras. Bilangan nol dijadikan simbol kesempurnaan dan harmoni kehidupan. Api sentral itu jika disimbolkan pada angka menjadi urutan ke 10. Jika dikembalikan kepada hakikatnya sebagai satu kesatuan dan kembali menjadi 1.
Daftar Pustaka
Zuliana, Eka. 2012. Teorema Phytagoras. Jakarta: Balai Pustaka.
Yulianty, Rani. 2002. Berkenalan dengan Pyhtagoras. Jakarta: Balai pustaka
Marsigit, dkk. 2008. Matematika 1. Yogyakarta: Yudistira.
Suryatin, Budi & R. Susanto Dwi Nugroho. 2007. Kumpulan Soal Matematika SMP/MTS. Jakarta: Gratisindo






















