Diposkan pada Education, masalah pendidikan

10 PERMASALAHAN PENDIDIKAN DIINDONESIA

1. Masalah Pemerataan Pendidikan

Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:227) masalah pemerataan pendidikan adalah  persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangun sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung didalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.

Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:229) masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen.

Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:231) pemecah masalah pemerataan pendidikan yaitu:

1. Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres atau ruangan belajar.

2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift.

3. Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua atau guru).

4. SD kecil untuk daerah terpencil.

5. Sistem guru kunjung.

            2. Masalah Mutu Pendidikan

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:232) mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terleak pada masalah pemrosesan pendidikan.

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:233) pemecahan masalah mutu pendidikan yaitu:

  1. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah.
  2. Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut.
  3. Penyempurnaan kurikulum.
  4. Peningkatan administrai manejemen.
  5. Penyempurnaan sarana belajar.

            3. Masalah Pengangkatan Guru

                             Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:235) masalah pengangkatan guru terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga dilapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap diangkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besar dari pada kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tidak segera difungsikan.

                 4. Masalah Penempatan Guru

                              Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:235) masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering menglami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan  di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedangkan guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga pada sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi diluar kewenangannya. Sehinggan menyebabkan ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga guru.

                 5. Masalah Pengembangan Tenaga Kependidikan

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:235) masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana di lapangan. Dapat dikatakan umumnya penanganan pengembangan tenaga pelaksana di lapangan (yang berupa penyuluhan, latihan, lokakarya, penyebaran buku panduan) sangat lambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru memakan waktu. akibatnya terjadi kesenjangan antara saat dirancangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan. Dalam masa transisi yang relatif lama ini proses pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif.

                 6. Masalah Efisiensi dalam Prasaran dan Sarana

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:236) penggunaan prasarana dan sarana pendidikan yang tidak efisien bisa terjadi sanatra lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering juga karena perubahan kurikum. Banyak gedung SD inpres (yang mulai dilancarkan pembangunannya pada akhir Pelita II) karena beberapa sebab dibangun pada lokasi yang tidak tepat. Akibatnya banyak SD yang kekurangan murid atau yang ruang belajarnya kosong. Gejala lain yaitu diadakannya dan didistribusikannya sarana pemebelajaran tanpa dibarengi dengan pembekalan kemampuan, sikap dan keterampilan calon pemakai.

                 7. Masalah Relevansi Pendidikan

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:237) masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembanngunan. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa, dan lain-lain. Namum di Indonesia terdapat jenis-jenis tenaga kerja guru yang dibutuhkan di lapangan kurang di produksi atau bahkan tidak di produksi.

                 8. Perkembangan Iptek bagi Guru

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:241) zaman sekarang sudah maju, dimana hampir seluruh manusia harus mengikuti perkembangan zaman tersebut terutama pada bidang pendidikan, guru harus bisa menggunakan teknologi untuk proses pembelajaran agar siswa dapat mengetahui bahwa teknologi juga dapat digunakan untuk pembelajaran, namun pada saat ini masih juga ada guru yang belum bisa menggunakan teknologi sehingga pendidikan menjadi tidak maju.

                 9. Perkembangan Seni

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:243) pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan tersediri disamping program-program yang lain dalam sistem pendidikan. Di sinilah timbulnya masalah pendidikan kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi di sekolah-sekolah saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Itulah sebabnya mengapa kesenian tidak termasuk Ebtanas, di samping itu juga sulit menyediakan tenaga pendidiknya.

                 10. Pertambahan Penduduk

                        Menurut Tirtahardja dan Sulo (2010:244) dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan.